← Semua tulisan

Field Notes on Leadership · Tulisan kedua

05.46 — refleks lebih cepat dari rencana

Jari Melepuh Gara-Gara Luncheon Meat

Satu pagi sibuk, satu kaleng yang susah dibuka, dan pelajaran kepemimpinan yang baru kerasa setelah jari saya melepuh.

Muhammad Asrullah · Oktober 2026 · ±4 menit baca

Tulisan kedua dari seri Field Notes on Leadership — insight kepemimpinan dari kejadian sehari-hari.

Bekal Pagi

Istri masih di luar kota, menemani anak pertama ospek di Fakultas Hukum UNAIR, Surabaya. Jam enam pagi lebih sedikit. Kiya dan Hamiz sudah mandi, seragam sudah rapi, tas sudah siap di meja. Tinggal satu yang belum kelar: bekal buat mereka makan di sekolah.

Saya buka kulkas. Diam sebentar di depannya, kayak lagi mikir keras, padahal cuma bengong. Terus terang saya nggak terlalu hafal isi kulkas sendiri. Yang isi istri, ada plastik-plastik nggak jelas di pojokan, sayur yang mulai layu, toples-toples yang saya nggak tahu isinya apa. Yang pasti cuma satu: waktu terus jalan menuju jam antar anak-anak ke sekolah.

Mata saya kepentok satu kaleng. Luncheon meat. Andalan kalau lagi kepepet kayak ini. Jadilah diputuskan, bekal hari itu pakai luncheon meat.

Eh, ternyata masalahnya baru mulai dari situ.

Kalengnya Kok Susah Amat

Dagingnya padat banget, nempel rapi di dinding kaleng. Saya coba cara biasa: balik kaleng, gebuk-gebuk bagian bawahnya. Sekali, dua kali, tiga kali, nggak keluar-keluar juga. Mulai kesal (dan buru-buru), saya tanya Mbah Google. Ada saran yang kedengarannya masuk akal: panasin bagian bawah kaleng pakai api kecil, katanya dagingnya bakal gampang lepas. Ya udah, saya coba.

Kejadian yang Tak Terduga

Kaleng saya taruh di atas api. Beberapa menit doang. Tiba-tiba dagingnya beneran lepas, tapi bukan lepas kayak yang saya bayangkan. Dagingnya nyelonong keluar dari kaleng, kalengnya jadi oleng, posisinya miring, dan ujung-ujungnya daging yang baru keluar malah langsung kena api. Dalam hitungan detik, dapur yang tadinya adem ayem berubah jadi berantakan.

Di sinilah reaksi paling jujur dari manusia keluar: refleks. Nggak mikir panjang, nggak ambil sarung tangan, nggak nyari penjepit, tangan saya langsung memegang kaleng panas itu, mengangkatnya, memindahkannya menjauh dari api kompor. Yang ada di kepala cuma satu: gimana caranya biar keadaan ini selamat dulu, dagingnya bisa dikonsumsi.

Sakitnya baru kerasa beberapa saat kemudian. Ujung jari telunjuk, jari tengah, dan jempol saya melepuh. Wajar sih, yang nempel langsung ke kaleng panas cuma kulit tipis. Sakit? Jelas sakit banget. Tapi yang lebih bikin saya mikir bukan sakitnya, melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kejadian lima menit itu.

Dari Dapur ke Cara Kita Bekerja

Dipikir-pikir lagi, kejadian pagi itu ternyata mirip banget sama yang sering terjadi di kantor, atau paling kecil, di tim kita sendiri. Ini beberapa hal yang kepikiran:

  1. Nggak semua info ada di tangan kita, dan itu wajar.

    Saya aja nggak hafal isi kulkas sendiri. Sama seperti leader yang nggak selalu punya data lengkap sebelum mengambil keputusan, seperti usecase feedback yang kita bahas kemarin. Leadership itu bukan soal harus tahu semuanya, tapi soal berani bergerak dengan apa yang ada di depan mata, sambil terus membaca situasi.

  2. Saran dari luar tetap harus disesuaikan dengan kondisi kita.

    Saran memanaskan kaleng itu sebenarnya benar, tapi saya terapkan tanpa memikirkan risikonya di posisi dan kondisi saya sendiri. Ini seperti saat kita mencontek strategi atau cara orang lain mentah-mentah, tanpa menyesuaikannya dengan kondisi tim atau wilayah kita. Pengalaman orang lain itu bahan, bukan resep yang langsung bisa dipakai.

  3. Saat krisis, nggak ada waktu rapat dulu.

    Waktu kaleng jatuh dan api mulai membakar daging, nggak ada waktu untuk mikir lama, apalagi mencari alat pelindung dulu. Keputusan harus diambil dalam hitungan detik. Ini realita di lapangan: ada momen di mana gerak cepat lebih penting daripada menunggu proses yang sempurna. Relate banget dengan arahan Kang Robby, cepat ambil keputusan.

  4. Refleks yang baik lahir dari rasa tanggung jawab.

    Saya nggak sempat mikir "prosedurnya harus gimana ya." Yang keluar justru dorongan spontan untuk menyelamatkan daging supaya nggak hangus, walau ujung-ujungnya diri sendiri yang kena getahnya. Leader yang baik biasanya begitu juga, bukan untuk membela diri, tapi rela mengambil risiko sendiri demi menyelamatkan tim atau situasi, walau itu artinya dia duluan yang "melepuh".

  5. Berani tanpa persiapan juga ada harganya.

    Seandainya tadi sempat ambil lap atau sarung tangan sepersekian detik lebih dulu, jari-jari saya nggak perlu melepuh. Artinya, persiapan tetap penting, supaya saat krisis datang, gerak cepat kita nggak malah membuat diri sendiri jadi korban.

  6. Kejadian kecil kayak gini bukan aib, tapi bahan belajar.

    Pagi itu dapurnya berantakan, planning juga berantakan, tapi bekal buat Kiya dan Hamiz tetap jadi, walau menunya apa adanya. Yang penting bukan sempurna, tapi apa yang diambil sesudahnya. Leader yang sudah matang biasanya nggak menutupi kegagalan kecil, malah menjadikannya cerita untuk belajar bersama timnya.

Penutup

Ternyata leadership itu nggak selalu lahir dari ruang meeting atau ruang kantor yang penuh tim dan slide rapi. Kadang dia muncul dari dapur jam setengah enam pagi, dari kaleng luncheon meat yang susah dibuka, dan dari jari yang melepuh gara-gara refleks menyelamatkan keadaan.

Yang membedakan seorang leader bukan soal pernah gagal atau tidak, tapi soal seberapa cepat dia sadar, seberapa jujur dia mau mengevaluasi, dan seberapa siap dia menghadapi kejadian berikutnya.

Kalau suatu pagi nanti ada lagi kaleng luncheon meat di dapur saya? Saya sudah pasti all prepared.

Kalian pernah punya momen dapur (atau kantor) yang ternyata jadi pelajaran kepemimpinan? Saya ingin dengar ceritanya.